Kegelisahan yang Digaungkan Aktivis Penolak Tambang Bontocani Akhirnya Dijawab Pakar

Jun 20, 2021

Kegelisahan Salahsatu Inisiator Tolak Tambang Bontocani yang kerap disapa Lilo, akhirnya terjawab saat diskusi Meretas Permasalahan Tambang di Kabupaten Bone, di Cafe Teras Watampone, Ahad, 20 Juni 2021.

Lilo gelisah atas adanya Sesar Walanae yang kemungkinan dianggapnya berdampak ke aliran sungai Walanae yang berpotensi terjadinya bencana. Karena itulah alasan Lilo menolak tambang di Bontocani. "Kami hanya fokus pada mitigasi bencana. Kami tahu, semua dokumen izin, semuanya sesuai regulasi. Tapi kami menilai Bontocani cukup rawan sebagai hulu dua sungai besar di Sulsel yakni Sungai Walanae dan Sungai Tangka, maka haram hukumnya bagi saya menambang di Bontocani," ujar Lilo di tengah peserta diskusi yang digelar Lembaga Kreatif Hitam Putih.

Hal tersebut pun langsung dijawab oleh Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Bone, Ir Khalil. Katanya dirinya tahu betul soal mitigasi bencana. "Saya alumni geologi UH, terkait mitigasi bencana, titik triangulasi sama halnya dengan titik geodesi, menentukan titik-titik ketinggian lintang bujur utara, timur, selatan dan barat. Gempa bumi beda dengan bencana longsor, bicara sesar (patahan batuan) terbentuk karena patahan bumi, lempeng ada dua ada lempeng karena benua dan ada karena samudera. Gempa bumi adalah salah satu dinamika perputaran bumi, melihat peta struktur geologi Indonesia, hampir semua wilayah NKRI potensi gempa," katanya.

Lanjut Khalil, sesar Walanae bukan disebabkan oleh Sungai Walanae, tetapi penamaan sesar yang melintang di perairan kelautan bone. "Itu penamaan geologi di Bone, diberi nama Walanae karena di sekitar itu ada sungai Walanae," terangnya.

Selain itu, Khalil juga menyanggah pernyataan Lilo yang menyebut Emporium Bukit Marmer tak pernah meminta izin ke Balai Pompengan.

"Terkait DAS Walanae, kalau menambang batu gunung tidak perlu meminta izin Balai Pompengan, kecuali tambang batu dan pasir di sungai bersangkutan," pungkas Khalil yang meruntuhkan isu beredar bahwa Emporium Bukit Marmer telah menyalahi aturan lantaran tak mengangtongi rekomendasi atau izin pihak balai Pompengan.

Di tengah-tengah forum, Lilo juga minta maaf kepada Irwandi Natsir yang telah menulis surat terbuka di media sosial. "Minta maaf Daeng Iwan, anritta Lilo kemarin barangkali agak kurang ajar menulis surat terbuka di medsos terkait tambang di bontocani," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Irwandi Natsir menegaskan dirinya sebagai pihak legislator yang melakukan pengawasan terhadap praktek tambang yang menyalahi aturan. "Kapasitas saya sebagai anggota DPRD adalah mengawasi persoalan kemasyarakatan di Bone, salah satunya tambang. Mengawasi kegiatan pertambangan pendekatan kita adalah regulasi, apakah ada pelanggaran-pelanggaran hukum yang terjadi ataukah kondisi konflik sosial soal pertambangan?" jelas Irwandi.