Mak Fitri-Abdikan Diri Mengasah dan Mengasuh Enterpreneur Muda

0 Komentar

Mak Fitri, begitu sapaan akrab dari nama asli Fitria Ningsih, S.Pd., M.Pd. Panggilan Mak dilekatkan padanya lantaran telah banyak mengasah dan mengasuh enterpreneur muda, jiwa kepemimpinannya teruji saat berhasil menjadi leader di salah satu perusahaan multi level marketing yang telah ia lakoni bertahun-tahun.

Bukan Mak Fitri jika mudah menyerah, kisahnya yang gagal berulang-ulang kali bisa dijadikan pelajaran: bagi dirinya maupun untuk orang lain. “Dari segi bisnis saya pernah gagal berulang-ulang kali. Jatuh bangun, bangkit lagi. Saya pernah jualan tas, modal habis. Jatuh tapi saya tidak menyerah. Lalu jualan kacamata, juga gagal. MLM, banyak yang telah saya ikuti, rata-rata gagal kecuali yang terakhir ini, saya masih bertahan di posisi leader,” cerita alumni Universitas Muhammadiyah Makassar ini.

Bagi Mak Fitri, seorang wanita tidak hanya ditakdirkan sebatas menjadi pengurus rumah tangga, melainkan wanita punya hak untuk menentukan karirnya. “Kami ini punya tujuan mulia, membantu perekonomian di keluarga, menebarkan ilmu positif ke semua kalangan. Namun tentu harus dengan dukungan dan restu suami,” kata ibu dari dua orang anak ini.

Sebagai seorang ibu yang sibuk membina jaringan dari berbagai wilayah, serta sebagai seorang Bhayangkari, Mak Fitri juga pernah mengalami perihnya kehidupan.

“Saya lahir dari keluarga yang tidak berkecukupan, pada akhirnya memaksa saya untuk mencari nafkah pada usia delapan tahun,” kenang owner baju gamis perempuan brand Kanja ini.

Lanjutnya, sejak kelas dua sekolah dasar, Mak Fitri jualan pisang moleng agar dapat uang jajan. “Saya jual jajanan agar dapat uang jajan. Lucu,” kenangnya sambil tertawa.

Mak Fitri juga bercerita bahwa dirinya juga pernah jualan kerupuk hingga jambu yang dia petik sendiri. “Pokoknya saya jual apa yang bisa dijual dan jadi uang. Tentunya semua usaha itu halal,” tambahnya.

Tak ada Waktu Bermain

Bermain adalah kesukaan anak-anak. Terlebih usia pertumbuhan menuju remaja, tapi tidak buat Fitri kecil. Mungkin saja dia mungil tapi otaknya bekerja keras, nanggung beban, nanggung malu.

Mencari uang lantaran orang tua tak mampu telah menyita banyak waktunya. Saking tak mumpuni, Fitri kecil di usia SMP malah tak punya seragam pramuka: tak mampu belibyang baru, tepatnya.

Selama tiga tahun di bangku menengah pertama itu, Mak Fitri hanya memakai pakaian dari kakak sepupunya. “Saya masih ingat, model saku atas. Padahal masa itu, kita sudah diwajibkan memakai seragam pramuka yang dua saku bagian samping kanan kiri bawah. Tapi orang tua tidak mampu, maka saya harus berbeda dari yang lain. Mati gaya? Jauh dari pikiran saya, cuek,” katanya riang.

“Banyak hal jika ingin diceritakan semua.
Intinya saya sebagai seorang wanita tidak pernah menganggap diri saya lemah, saya percaya tanggung jawab merubah nasib anak-anakku,” tegas founder komunitas the winner ini.

Buah yang telah dijual Fitri kini telah jadi manis. Kehidupan berubah sejak 2018. Pada tahun pertama di MLM Imogen dia meraih omset satu miliyar rupiah. “Sebuah pencapain yang spektakuler bagi saya dibanding kegagalan-kegalan saya sebelumnya,” tuturnya.

Kini Mak Fitri lebih aktif memberikan edukasi kepada kalangan perempuan, melatih perempuan/ibu rumah tangga berbisnis, serta melatih publik speaking. “Saya sekarang jadi trainer publik speaking,” tegasnya.

Dia pun menambahkan bahwa perempuan harus bangkit. “Saatnya bergerak karena zaman telah menghapuskan diskriminasi berdasarkan identitas kelamin,” tutupnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment