TAKUT YANG OVER DOSIS

0 Komentar

Di antara sahabat sebayaku, saya termasuk salah satu yang paling belakangan pandai berenang. Padahal rumahku berada tepat di seberang pantai di pesisir Paotere, sebuah kampung nelayan tempat pelaut- pelaut ulung tanah daeng bermukim. Tempat kapal-kapal Phinisi berlabuh. Alasan saya telat pandai berenang adalah takut. Saya takut tenggelam. Padahal tak satu pun teman sebayaku yang mati tenggelam. Tak ada pengalaman empirisku yang berhubungan dengan kata tenggelam kecuali kabar dan cerita tentang orang- orang yang mati tenggelam akibat si korban dimakan oleh penunggu laut, atau menjadi tumbal hantu laut. Cerita itu semakin diperkuat oleh perilaku sesajen dari orang- orang dari luar kampung kami. Dalam seminggu selalu saja ada yang datang melarung sajennya di tepi pantai saat kami asik berenang. Cerita tentang hantu atau penunggu laut itu entah benar atau hanya karangan saja. Hingga kini, itu hanya cerita. Saya lebih percaya orang yang mati tenggelam itu disebabkan karena memang tak tahu berenang atau kehabisan nafas dan tenaga saat berenang.

Lanjut, seingatku saya mulai pandai berenang saat duduk dibangku kelas tiga SD. Saat itu, musim hujan dan biasanya air di laut sedikit berombak. Saya begitu iri melihat kawan- kawanku begitu asik kejar-kejaran dan sesekali berloncatan dari atas perahu atau kapal yang berlabuh. Sementara saya hanya berada di tepian bermain sendiri. Saya lalu meminta untuk diajarkan “teknik” berenang yang lalu diperagakan oleh salah satu kawanku. Seingatku Cuma dua kalimat singkat yang menjadi penyemangatnya, saat mulai mempraktikkan “jangan takut” dan  “jangan panik”. Mereka lalu memintaku untuk langsung naik ke rakit dan membawaku ke tempat yang lumayan dalam. Saya pun melompat lalu mempraktikkan “teori” yang kupelajari. Yah, hasilnya saya sempat timbul tenggelam dan meminum banyak air bahkan panik namun kawan-kawan membantuku melawan rasa panik itu . Hari itu meski belum langsung mahir, saya mulai bisa mengapung dan berpindah semeter- dua meter.

Dalam kehidupan, rasa takut merupakan bawaan alami kita. Kita terlahir lengkap dengan semua rasa. Bukan manusia jika tak memiliki rasa takut. Setiap kita memiliki cerita tersendiri soal pengalaman takut itu. Mulai dari kecil, hingga saat ini. Banyak jenis ketakutan yang kita alami. Dan semua kita memiliki kadar ketakutannya masing- masing. Tentang rasa takut yang besar kita bisa mengutip satu perkataan masyhur dari seorang Presiden Amerika, Franklin D. Roosevelt, di masa depresi di awal pemerintahannya, beliau memberi semangat dan menenangkan jutaan rakyatnya dengan berucap “so first of all let me assert my firm belief that the only thing we have to fear itself—nameless, unreasoning, unjustified terror which paralyzes neede efforts to converts retreat into advance” (satu-satunya hal yang harus kita takutkan adalah rasa takut itu sendiri—rasa takut yang tidak berdasar sesungguhnya adalah terror yang akan melumpuhkan langkah kita ke masa depan” terjemahan bebas penulis).

Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang yang bersepakat dengan slogan itu. Sebabnya jelas, bukan ketakutannya yang bermasalah, tapi bagaimana kita bereaksi terhadap rasa takut tersebut. Pengalaman-pengalaman hidup yang kulewati banyak menyerempet pada “ketakutan”. Dan pelan- pelan kulewati bersamaan dengan pikiran yang mendikte ketakutan coba untuk kulawan. Semakin pikiran terbelenggu oleh ketakutan maka semakin kita tak bisa berbuat apa-apa.

Kita takkan mungkin meluruskan sesuatu yang bengkok jika masih bermasalah dalam ketakutan. Bahkan pada titik yang paling parah, kita takut menjadi miskin yang menyebabkan kita enggan bersedekah atau berbagi. Takut pada ular, takut pada tabrakan, takut terkena petir, takut pada jatuh sakit dan sebagainya. Saat kita sedang beternak rasa takut yang pada akhirnya melebihi dosis normal justru saat itu kita sedang merekayasa bencana pada diri kita. Kita akan menyerang pertahanan psikologis kita yang lalu menjalar pada titik alam bawah sadar kita dan menanam sedalam-dalamnya kata “takut” yang seumur hidup akan mendikte hidup kita. Padahal semua ketakutan itu punya obatnya masing- masing. Takut sakit yah hidup dengan pola yang sehat, takut ular yah cari info tentang ular, takut jatuh yah pelajari tekhnik agar tak jatuh, takut pada suatu wabah yah kita cari tahu cara menghindarinya atau mengikuti anjuran para ahli.

Satu- satunya rasa takut yang wajib kita pelihara adalah takut pada Allah. Sebab dengan rasa takut yang paripurna pada sang pencipta itulah yang akan membunuh ketakutan-ketakutan semu yang lain. Sebab ketakutan selain dari takut pada Allah, tidak lain hanyalah produksi dari pikiran kita. Jika semua ketakutan semu itu menjauhkan kita pada subyek/obyek yang membuat takut itu. Maka satu-satunya takut yang akan semakin mendekatkan kita padanya hanya takut pada Allah. Wallahu a’lam.

Penulis : Ute Nurul Akbar
Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment