Life StyleKopi Beraroma Marxis di Kafe Bunga Tembok

Kopi Beraroma Marxis di Kafe Bunga Tembok

MAKASSAR,UPOS.ID– Berkunjung ke kafe Bunga Tembok atmosfir yang langsung menyergap kita seperti berada di kafe- Jogja dengan gaya vintage. Aroma marxisnya juga menyengat.

Tapi bagi saya kafe ini mengingatkan sebuah kafe bernama Le Procope di Kota Paris tahun 1686 yang dibuat seorang pendatang dari Italia Francois Procope Cateau, kafe ini adalah tempat diskusi dan debat panas yang melahirkan revolusi Prancis yang termasyur itu.

Kafe Bunga Tembok sendiri terinspirasi dan sedang menyandang spirit progresif puisi Wijhi Tukul -seorang penyair aktivis prodem yang melawan rezim Orde Baru dan menjadi salah satu aktivis yang dinyatakan hilang dan tak pernah jelas nasibnya hingga kini- berjudul “Bunga dan Tembok”.

Dua kata itu -bunga dan tembok- tidak cuma ditafsir secara artifisial dengan menanam dan memelihara tanaman dan bunga. Baik di sekeling-sekeliling bangunan atau di halaman dan temboknya maupun di dalam ruangannya. Tapi juga ditafsir dalam aktivitas dan visi yang hendak diemban kafe ini. Baik dari sisi manajemen yang akan diarahkan menjadi manajemen kolektif berbentuk koperasi pekerja.

“Kita sedang menuju pengelolaan manajemen kolektifitas opsinya dengan membentuk koperasi pekerja sehingga semua elemen yang terlibat dalam pengelolaan kafe ini menjadi pemilik dan mendapatkan hasil dari upayanya, sehingga tidak ada hirarki eksploitasi yang terjadi, itu dari segi manajemennya ya,” ujar Muhammad Ridha pengelola kafe Bunga Tembok saat berbincang di penghujung tahun 2021 kemarin.

Muhammad Ridha yang akrab disapa bung Ridha ini tak mau disebut owner istilah yang lebih cenderung berbau kapitalis itu. Ia lebih menyukai disebut sebagai fasilitator. Bung Ridha yang juga tercatat sebagai salah satu dosen di almamaternya UIN Alauddin Makassar ini nyaris lebih dari satu dekade bergelut dengan ide-ide progresif dan radikal semacam Marxisme dan semacamnya. Bukan hanya bergelut dengan ide, tapi juga beraktivitas baik dalam diskusi-diskusi Marxisme hingga mendirikan lembaga pendidikan rakyat bernama Cara Baca yang menggelar banyak diskusi-diskusi kritis, menerbitkan buku dan melakukan riset-riset lapangan serta turun dalam aksi-aksi mengkritisi kebijakan yang menyesengrakan rakyat.

Suasana teras samping

RUANG BERJEJARING MASSA RAKYAT

“Kalau ditanya fungsi ruang di kafe ini sebenarnya ruangnya mau dibuat sederhana agar bisa selalu terhubung dengan seluruh perjuangan massa rakyat juga dengan seluruh perjuangan untuk keadilan dan demokrasi kerakyatan, bukan demokrasi olirgaki ya hahahaha,” kata bung Rido santai sambil sesekali menyeruput kopi tubruk salah satu menu yang ada di kafe ini.

Alhasil, selama setahun sejak resmi dibuka, Kafe Bunga Tembok sudah berfungsi sebagai ruang berjejaring aktivis-aktivis di Sulsel hingga luar Sulawesi khususnya Jogja.Beberapa aktivitas literasi dan sekolah rakyat sudah dihelat di tempat ini. Seperti kelas riset masyarakat pesisir baru-baru ini atau kelas menulis kreatif yang diampu Muhidin M Dahlan,

penulis esai dan novel yang terkenal dengan novel best seller “Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur”

Diskusi buku pun tak kalah ramainya. Baik yang diterbitkan oleh Carabaca yang juga dikelola Bung Ridha bersama kawan-kawannya itu maupun dari beberapa penerbit indie dari jejaring aktivis-aktivis di Sulsel. Itulah mengapa di awal artikel ini saya merasa kafe ini mengingatkan pada kafe Le Procope di Kota Paris. Tahun 1686 ketika kafe itu dibangun masih sangat jarang kafe dibuat di kota itu. Masyarakat Prancis saat itu juga belum punya tradisi makan di luar rumah. Hanya saja lokasi kafe yang sempat berpindah-pindah lalu bertempat di  Rue de l’Ancienne Comedie yang saat itu ramai karena terdapat teater -seperti dikutip dari majalah intisari online- mulai kerap dijadikan tempat berkumpul sambil ngopi dan juga membaca para seniman. Tempat ini menjadi sarana berbagi informasi apalagi saat itu beberapa tokoh intelektual Paris kerap berkumpul di situ hingga tempat ini juga sering disebut sebagai tempat pencerahan. Beberapa seniman dan intelektual Paris seperti JJ Rousseau, Diderot, Voltaire, dan Pirot, menjadi pelanggan setia. Konon Voltaire pernah menulis karyanya di kafe ini dan sempat berbincang dengan Benjamin Franklin bapak pendiri Amerika Serikat di kafe itu.

INTERIOR BAHAN DAUR ULANG

Menilik interior Kafe Bunga Tembok kita akan banyak melihat barang bekas yang didaur ulang baik sebagai meja dan kursi maupun sebagai dinding, pintu dan pemisah ruangan. Misalnya sebuah kursi sofa dari bak mandi yang dibelah menjadi dua bagian dan jadilah sebuah kursi sofa daur ulang.

Bagian ruangan dalam Kafe Bunga Tembok

“Sebenarnya awalnya tempat ini adalah tempat yang tidak terpakai, lalu direnovasi dikit dan dijadikan kafe,” kisah Bung Ridha tentang awal-awal hadirnya kafe Bunga Tembok.

Penulis buku Sosiologi Waktu Senggang ini menuturkan kalau inspirasi konsep kafen

ya banyak terinspirasi dari kafe yang kerap ia lihat di kota gudeg Jogjakarta. Ia memang kerap kali bolak balik Jogja baik untuk alasan penerbitan buku ataupun studi. Studi strata duanya diselesaikan di kampus UGM Jogja.

Lalu dibantu oleh teman sesama dosen di UIN Alauddin, Ahmad Ibrahim yang mengggambar interiornya sementara gagasan

merespon material-material Ridha mengaku banyak dibantu oleh Yoshi Fadjar dari Jogja.

Memasuki Kafe Bunga Tembok kita disambut oleh pintu gerbang apa gapura Pura -rumah ibadah umat hindu-

atau pintu-pintu yang biasa kita lihat di rumah tradisional masyarakat Bali. Pintu ini tidak pernah dikunci dibiarkan terbuka. Menurut Ridha sengaja karena tempat ini selalu terbuka bagi siapa saja dan kapan saja.

Gapura pintu masuk Kafe Bunga Tembok

Halamannya banyak diisi oleh tanaman dan bunga-bunga. Ini membuat halaman menjadi asri dan teduh. Tanaman-t

anaman ini banyak yang dibibit sendiri dan dirawat telaten dan serius. Beberapa meja kursi tersedia di sini. Sisi kiri bangunan ada space untuk diskusi dengan sebagai “panggung” sebuah gazebo yang juga seringkali digunakan untuk ngobrol-ngobrol santai dan bercengkrama.

Di ruang dalam ada lemari besar untuk koleksi buku-buku yang bisa dibaca ditempat atau bisa juga membeli untuk dibawa pulang. Beberapa hiasan vintage juga terlihat di dindingnya dan tentu saja beberapa jenis tanaman hias.

Kafe Bunga Tembok menyediakan menu yang biasa saja, mulai dari jenis kopi tubruk dan kopi susu hingga aneka minuman non kopi. Tak ada yang cukup istimewa dalam menu. Tapi suasana dan atmosfirnya cukup berbeda dengan kafe-kafe atau warkop yang banyak bertebaran di kota Makassar dan sekitarnya.

Kafe Bunga Tembok memang terletak jauh dari pusat keramaian kota Makassar. Ia berada di pinggiran kota. Bahkan wilayahnya sebenarnya berada di ibukota kabupaten Gowa, Sungguminasa. Menurut google maps dari flyover jalan protokol negara, Jalan Urip Sumoharjo di kota Makassar, jarak tempuh ke kafe bunga tembok 9,6 km, ditempuh dengan kendaraan roda dua dalam situasi normal sekitar 22 menit saja melalui jalan provinsi Hertasning hingga ke jalan Tun Abdul Razak ke arah Bundaran Samata.

Karena berada dipinggiran kota. Maka kafe ini cocok untuk menepi sambil mencari suasana yang teduh dan tak bising hingga obrolan bisa lebih intens atau bila anda sedang mencari tempat yang tenang mengerjakan tugas kuliah dan kantor tempat ini adalah tujuan yang harus anda datangi.(#)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita Terbaru